- TUGAS PEREKONOMIAN INDONESIAKESENJANGAN DAN KEMISKINANNama : Ichpa Ila IchsaniKelas :1EB08NPM :23215216UNIVERSITAS GUNADARMA2016
1. Pengertian
Kemiskinan
Merupakan
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memperbaiki
keadaan. kemiskinan dapat diartikan secara lebih luas dengan
menambahkan faktor faktor lain seperti faktor sosial dan moral.
Secara konvensional, kemiskinan dapat diartikan sebagai suatu keadaan
individu atau masyarakat yang berada di bawah garis tertentu. Secara
umum pengertian dari kemiskinan sangat beragam, tergantung dasar
pemikiran dan cara pandang seseorang. Namun kemiskinan identik dengan
ketidakmampuan sekelompok masyarakat yang terhadap sistem yang
diterapkan oleh suatu pemerintah sehingga mereka berada pada posisi
yang sangat lemah dan tereksploitas(kemiskinan struktural).
Kemiskinan juga
dapat didefinisikan menurut dua pendekatan. Kemiskinan absolut dan
kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut diukur dengan suatu standart
tertentu, sementara kemiskinan relatif bersifat kondisional,
biasanya membandingkan pendapatan sekelompok orang dengan pendapatan
kelompok lain. Sedang kemiskinan absolut adalah sejumlah penduduk
yang tidak mampu mendapatkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan dasar. Mereka hidup di bawah tingkat pendapatan riil
minimum tertentu- atau mereka berada di bawah garis kemiskinan
internasional.
- Konsep Kemiskinan
Konsep Kemiskinan
merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir ditengah masyarakat.
Kemiskinan sebagai fenomena sosial yang telah lama ada, berkembang
sejalan dengan peradaban manusia. Masyarakat miskin pada umumnya
lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan
ekonomi sehingga seringkali makin tertinggal jauh dari masyarakat
lain yang memiliki potensi tinggi. Substansi kemiskinan adalah
kondisi deprevasi tehadap sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar
yang berupa sandang, pangan, papan, dan pendidikan dasar.
Kemiskinan juga
sering disandingkan dengan kesenjangan, karena masalah kesenjangan
mempunyai kaitan erat dengan masalah kemiskinan. Substansi
kesenjangan adalah ketidakmerataan akses terhadap sumber daya
ekonomi. Sudibyo (1995:11) mengatakan bahwa “apabila berbicara
mengenai kemiskinan maka kemiskinan dinilai secara mutlak, sedangkan
penilaian terhadap kesenjangan digunakan secara relatif”. Dalam
suatu masyarakat mungkin tidak ada yang miskin, tapi kesenjangan
masih dapat terjadi di dalam masyarakat tersebut.
Sebagian besar dari penduduk miskin ini tinggal diperdesaan dengan mata pencaharian pokok dibidang-bidang pertanian dan kegiatan-kegiatan lainnya yang erat hubungannya dengan sektor ekonomi tradisional tersebut. Kehidupan mereka bergantung pada pola pertanian yang subsistem, baik petani kecil atau pun buruh tani yang berpenghasilan rendah, ataupun bekerja dalam sektor jasa kecil-kecilan dan berpenghasilan pas-pasan. Fenomena banyaknya urbanisasi penduduk desa ke kota menunjukkan bahwa adanya ketidakmerataan pembangunan di perdesaan. Terbatasnya fasilitas umum, kecilnya pendapatan, dan terbatasnya pekerjaan dan dalih mencari kehidupan lebih baik menjadi alasan urbanisasi ini. Permasalahan tersebut menyiratkan adanya ketidakmerataan dan kesenjangan antara perdesaan dan perkotaan.
Sebagian besar dari penduduk miskin ini tinggal diperdesaan dengan mata pencaharian pokok dibidang-bidang pertanian dan kegiatan-kegiatan lainnya yang erat hubungannya dengan sektor ekonomi tradisional tersebut. Kehidupan mereka bergantung pada pola pertanian yang subsistem, baik petani kecil atau pun buruh tani yang berpenghasilan rendah, ataupun bekerja dalam sektor jasa kecil-kecilan dan berpenghasilan pas-pasan. Fenomena banyaknya urbanisasi penduduk desa ke kota menunjukkan bahwa adanya ketidakmerataan pembangunan di perdesaan. Terbatasnya fasilitas umum, kecilnya pendapatan, dan terbatasnya pekerjaan dan dalih mencari kehidupan lebih baik menjadi alasan urbanisasi ini. Permasalahan tersebut menyiratkan adanya ketidakmerataan dan kesenjangan antara perdesaan dan perkotaan.
- Garis kemiskinan
Garis kemiskinan
adalah tingkat minimum pendapatan
yang dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar
hidup yang mencukupi di suatu negara. Dalam praktiknya, pemahaman
resmi atau umum masyarakat mengenai garis kemiskinan (dan juga
definisi kemiskinan)
lebih tinggi di negara
maju daripada di negara
berkembang.Hampir setiap masyarakat memiliki rakyat yang hidup
dalam kemiskinan. Garis kemiskinan berguna sebagai perangkat ekonomi
yang dapat digunakan untuk mengukur rakyat miskin dan
mempertimbangkan pembaharuan sosio-ekonomi, misalnya seperti program
peningkatan kesejahteraan
dan asuransi
pengangguran untuk menanggulangi kemiskinan.
- Penyebab Kemiskinan
Secara umum,
penyebab kemiskinan dapat dibagi kedalam empat mazhab (Spicker,
2002),yaitu:
Pertama,
Individual explanation, mazhab ini berpendapat bahwa kemiskinan
cenderung
diakibatkan
oleh karakteristik orang miskin itu sendiri. Karakteristik yang
dimaksud seperti
malas
dan kurang sungguh-sungguh dalam segala hal, termasuk dalam bekerja.
Mereka
juga sering salah dalam memilih, termasuk memilih pekerjaan, memilih
jalan hidup,
memilih
tempat tinggal, memilih sekolah dan lainnya. Gagal, sebagian
orang miskin bukan karena tidak pernah memiliki kesempatan, namun ia
gagal menjalani dengan baik kesempatan
tersebut.
Kemiskinan dapat
juga disebabkan oleh:
(a) rendahnya
kualitas angkatan kerja
(b) akses yang sulit
dan terbatas terhadap kepemilikan modal
(c) rendahnya
tingkat penguasaan teknologi
(d) penggunaan
sumberdaya yang tidak efisien,
(e)
pertumbuhan penduduk yang tinggi (Sharp et al, 2000).
Dampak
kemiskinan
1.
Kriminalitas
Salahsatu
faktor terjadinya kriminalitas adalah kemiskinan,mengapa?
Karena
saat seseorang tidak mempunyai penghasilan sementara dia harus
memenuhi kebutuhan hidupnya,
maka
ia akan melakukan berbagai hal termasuk tindakan kriminal,seperti
pencurian,
perampokan
bahkan hingga pembunuhan. 2.
Tingkat pendidikan rendah
Dampak
lain dari kemiskinan yaitu tingkat pendidikan yang rendah,
hal
ini dikarenakan pendidikan itu membutuhkan biaya yang tidak
sedikit,dan pasti akan menyulitkan rakyat miskin,walaupun pemerintah
sudah memberikan berbagai bantuan bahkan hingga pendidikan gratis
dari sd hingga sltp hingga saat ini,tapi tetap saja belum
memaksimalkan pendidikan untuk kalangan miskin,dan hal ini akan terus
berdampak pada meningkatnya kemiskinan jika tingkat pendidikan tetap
rendah.3.Tingkat
kesehatan rendah dan meningkatnya angka kematian
Kemiskinan juga menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan sehingga membuat tingginya angka kematian,hal ini dikarenakan biaya untuk kesehatan,sebagaimana slogan "sehat itu mahal" memang benar slogan tersebut, sehingga masyarakat miskin akan merasakan betapa beratnya biaya rumah sakit,sehingga mereka tidak bisa berobat kerumah sakit dikarenakan faktor biaya.,selain itu kemiskinan juga menyebabkan buruknya kesehatan pada bayi dan balita yang membutuhka banyak asupan gizi,sedangkan orang tua mereka tidak mempunyai materi yang cukup untuk memenuhi hal tersebut,sehingga banyak terdapat bayi yang lahir cacat karena kurangnya asupan giza saat dalam kandungan..,serta banyak balita hingga anak usia pertumbuhan terkena busung lapar,dikarenaka tidak memadainya asupan makanan mereka,tentu saja kita sudah tahu tentang hal ini dari berita-berita di media massa.
Kemiskinan juga menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan sehingga membuat tingginya angka kematian,hal ini dikarenakan biaya untuk kesehatan,sebagaimana slogan "sehat itu mahal" memang benar slogan tersebut, sehingga masyarakat miskin akan merasakan betapa beratnya biaya rumah sakit,sehingga mereka tidak bisa berobat kerumah sakit dikarenakan faktor biaya.,selain itu kemiskinan juga menyebabkan buruknya kesehatan pada bayi dan balita yang membutuhka banyak asupan gizi,sedangkan orang tua mereka tidak mempunyai materi yang cukup untuk memenuhi hal tersebut,sehingga banyak terdapat bayi yang lahir cacat karena kurangnya asupan giza saat dalam kandungan..,serta banyak balita hingga anak usia pertumbuhan terkena busung lapar,dikarenaka tidak memadainya asupan makanan mereka,tentu saja kita sudah tahu tentang hal ini dari berita-berita di media massa.
- Pertumbuhan, Kesenjangan, dan Kemiskinan
Pertumbuhan,
Kesenjangan, dan Kemiskinan
1. Hubungan
antara Pertumbuhan dan Kesenjangan :
a.Hipotesis
Kuznets. Hipotesis Kuznets timbul setelah dia melakukan penelitian di
beberapa negara secara time series. Dari penelitian tersebut
ditemukan hubungan kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan per
kapita dalam kurva yang berbentu huruf U terbalik. Kurva tersebut
menggambarkan terjadinya evolusi dari distribusi pendapatan dalam
proses transisi dari ekonomi pedesaan (pertanian) ke ekonomi
perkotaan (industri).
2.
Hubungan
antara Pertumbuhan dan
Kemiskinan
a.Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pertumbuhan
output agregat atau PDB atau PN maupun pertumbuhan output sektoral
terhadap pengurangan jumlah orang miskin. Ravallion dan Datt (1996)
di India : menemukan bahwa pertumbuhan output di sektor-sektor primer
(pertanian) jauh lebih efektif terhadap penurunan kemiskinan
dibandingkan sektor-sektor sekunder. Kakwani (2001, Filipina) :
peningkatan 1% output di sektor pertanian dapat mengurangi jumlah org
yg hidup di bwh garis kemiskinan sedikit di atas 1%. Sedangkan %
pertumbuhan yg sama di sektor industri dan jasa hanya mngakibatkan
pengurangan kemiskinan 0,25 – 0.3%.
- BEBERAPA INDIKATOR KESENJANGAN DAN KEMISKINAN
· INDIKATOR
KESENJANGAN
Ada sejumlah cara
untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang
dibagi ke dalam dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan
stochastic dominance. Yang sering digunakan dalam literatur adalah
dari kelompok pendekatan pertama dengan tiga alat ukur, yaitu the
generalized entropy (GE), ukuran atkinson, dan koefisien gini.Yang
paling sering dipakai adalah koefisien gini. Nilai koefisien gini
berada pada selang 0 sampai dengan 1. Bila 0 : kemerataan sempurna
(setiap orang mendapat porsi yang sama dari pendapatan) dan bila 1 :
ketidakmerataan yang sempurna dalam pembagian pendapatan.Ide dasar
dari perhitungan koefisien gini berasal dari kurva lorenz. Semakin
tinggi nilai rasio gini, yakni mendekati 1 atau semakin jauh kurva
lorenz dari garis 45 derajat tersebut, semakin besar tingkat
ketidakmerataan distribusi pendapatan.
·
INDIKATOR
KEMISKINAN
Batas garis
kemiskinan yang digunakan setiap negara ternyata berbeda-beda. Ini
disebabkan karena adanya perbedaan lokasi dan standar kebutuhan
hidup. Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas miskin dari
besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi
kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (BPS, 1994). Untuk
kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2.100 kalori per hari.
Sedangkan pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi
pengeluaran untuk perumahan, sandang, serta aneka barang dan
jasa.Dengan kata lain, BPS menggunakan 2 macam pendekatan, yaitu
pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) dan pendekatan Head
Count Index. Pendekatan yang pertama merupakan pendekatan yang sering
digunakan. Dalam metode BPS, kemiskinan dikonseptualisasikan sebagai
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sedangkan Head Count
Index merupakan ukuran yang menggunakan kemiskinan absolut. Jumlah
penduduk miskin adalah jumlah penduduk yang berada di bawah batas
yang disebut garis kemiskinan, yang merupakan nilai rupiah dari
kebutuhan minimum makanan dan non makanan. Dengan demikian, garis
kemiskinan terdiri dari 2 komponen, yaitu garis kemiskinan makanan
(food line) dan garis kemiskinan non makanan (non food line).
presentase dari populasi yang hidup di dalam keluarga dengan
pengeluaran konsumsi perkapita dibawah garis kemiskinan, indeksnya
sering disebut rasio H. Kedua, the dept of property
yang menggambarkan dalamnya kemiskinan disuatu wilayah yang diukur
dengan indeks jarak kemiskinan (IJK), atau dikenal dengan sebutan
proverty gap index. Indeks ini mengestimasi jarak/perbedaan rata-rata
pendapatan orang miskin dari garis kemiskinan sebagai suatu proporsi
dari garis tersebut.
Kemiskinan di Indonesia
Antara pertengahan tahun 1960-an sampai tahun 1996, waktu Indonesia berada dibawah kepemimpinan Pemerintahan Orde Baru Suharto, tingkat kemiskinan di Indonesia menurun drastis - baik di desa maupun di kota - karena pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat dan adanya program-program penanggulangan kemiskinan yang efisien. Selama pemerintahan Suharto angka penduduk Indonesia yang tinggal di bawah garis kemiskinan menurun drastis, dari awalnya sekitar setengah dari jumlah keseluruhan populasi penduduk Indonesia, sampai hanya sekitar 11 persen saja. Namun, ketika pada tahun 1990-an Krisis Finansial Asia terjadi, tingkat kemiskinan melejit tinggi, dari 11 persen menjadi 19.9 persen di akhir tahun 1998, yang berarti prestasi yang sudah diraih Orde Baru hancur seketika.
Factor-faktor penyebab kemiskinan
- Pendapatan Per Kapita Penduduk
- Rasio Ketergantungan Penduduk
- Pertumbuhan Ekonomi
- Persentase Tenaga Kerja Di sektor Pertanian
- Pengaruh Penghasilan Terhadap Kemiskinan
- KEBIJAKAN ANTI KEMISKINAN
1.Untuk
menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di perlukan strategi dan
bentuk intervensi yang tepat dalam arti cost effectivenessnya tinggi.
2.Ada
tiga pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni:
3.1.
Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang prokemiskinan
2.
Pemerintah yang baik (good governance)
Pembangunan social
4.Untuk
mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi
pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila dibagi
menurut waktunya:
5.1.
Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sector pertanian dan
perekonomian perdesaan
- 2. Intervensi jangka menengah dan panjang
- · Pembangunan sector swasta
- · Kerjasama regional
- · APBN dan administrasi
- · Desentralisasi
- · Pendidikan dan kesehatan
- · Penyediaan air bersih dan pembangunan perdesaan
daftar
pustaka :
Syamsyuri.
2009. Konsep
kemiskinan. (online),
(http://2frameit.blogspot.com/2012/03/tentang-konsep-kemiskinan.html),
diakses 20 November 2012.
http://aping28.blogspot.co.id/2015/04/kebijakan-anti-kemiskinan_56.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar